Minggu, 31 Mei 2015

Bisakah Pakaian Bekas Dikomposkan?


Pertanyaan semacam ini sering muncul di kalangan pemerhati kelestarian lingkungan atau di kalangan masyarakat umum yang bingung apa yang bisa dilakukan dengan pakaian bekas. Tentu menyumbangkannya untuk kegiatan amal atau menjualnya di pasar loak bisa menjadi pilihan daripada membuangnya sia-sia. Namun, terkadang tidak semua pakaian bekas layak untuk disumbangkan atau pun dijual. Jadi pengomposan mungkin bisa menjadi sebuah alternatif.

Kompos Pakaian Bekas
Lalu, apakah pakaian bekas bisa dikomposkan? Jawabannya, tergantung pada jenis kain atau bahan pakaian tersebut. Ada kain berbahan serat alami dan ada kain berbahan serat sintetis. Kain berserat alami mencakup katun, wol, rami, sutra, dan linen. Beberapa kain juga terbuat dari serat bambu atau serat nanas. Jenis-jenis ini berpotensi menjadi bahan kompos dengan perlakuan yang tepat. 


Jika Anda tahu cara kerja mesin cuci, mesin cuci akan sangat membantu mengondisikan pakaian tua agar siap didaur ulang menjadi kompos. Sedangkan kain berserat sintetis seperti akrilik, poliester, nilon, dan mikrofiber tidak bisa dikomposkan.

Kompos Pakaian Bekas
Hal ini juga berlaku untuk kain-kain lain perlengkapan rumah tangga, semisal taplak meja, gorden, seprai, serbet, dan handuk yang berbahan 100% serat alami. Seratus persen berarti semua materialnya alami, termasuk benang jahitnya, kain luarnya, dan kain lapisannya. Jika diperhatikan bahwa sebagian pakaian menyebutkan terbuat dari 100% bahan alami namun sebenarnya masih mengandung bahan sintetis di beberapa bagiannya. Sebagaimana kita pahami, bahan-bahan sintetis tidak mudah lapuk atau terurai selama proses pengomposan. Jadi kalau bahan-bahan sintetis ikut dimasukkan dalam proses pengomposan, bahan-bahan tersebut perlu dipisahkan dari kompos yang sudah jadi di kemudian hari.

Objek-objek berbahan plastik dan logam pada kain juga perlu disingkirkan. Antara lain ritsleting, kancing, gesper, dan sablon. Sebagian sablon terbuat dari tinta berbahan plastik PVC yang jelas tidak mudah membusuk dan malah berpotensi mencemari tanah. Salah satu ciri-ciri sablon berbahan PVC adalah cetakannya tebal dan terasa timbul pada permukaan kain. Anda perlu memotong bagian kain yang bersablon dan tidak memasukkannya ke dalam komposisi kompos.

Setelah dipilah-pilah, kain berbahan serat alami perlu dicuci atau dibilas. Mesin cuci bisa membantu membilas kain-kain bekas untuk memudarkan kandungan bahan-bahan pencemar, seperti noda minyak, karat, oli, deodoran, dll. Anda cukup memilih siklus pembilasan pada mesin cuci sesuai cara kerja mesin cuci Anda masing-masing. Agar hasil kompos tidak terkontaminasi bahan-bahan asing, pakaian yang pernah atau sering dicuci kering (dry clean) sebaiknya dicuci basah terlebih dulu guna meluruhkan residu bahan kimia yang dipakai selama proses cuci kering.

Proses selanjutnya adalah mencacah atau menyobek kain menjadi bagian kecil-kecil. Semakin kecil potongan-potongan kain, semakin cepat juga proses pembusukannya. Sobekan-sobekan kain dicampur dengan bahan-bahan kompos biasa yang lebih segar dan basah, seperti kulit buah, dedaunan, sisa sayuran, dan ranting-ranting pohon. Bahan-bahan organik ini akan menyeimbangkan komposisi kompos.

Kompos Pakaian Bekas
Komposisi kompos terdiri atas 25% potongan-potongan kain dan 75% bahan-bahan organik. Aduk semua bahan untuk meratakan sebarannya. Masukkan ke media khusus pengomposan/komposter yang biasa Anda pakai. Jaga media pengomposan/komposter ini selalu lembap. Anda bisa juga mengubur bahan-bahan ini langsung di sekitar tanaman yang ingin disuburkan. Siram secara rutin untuk mempertahankan kelembapannya.

Proses pengomposan kain tentu tidak secepat proses pengomposan kertas atau hanya bahan-bahan organik. Apalagi jika kain-kain tersebut mengandung bahan sintetis. Oleh karena itu, Anda perlu bersabar.

Contributed by Ady Nugroho

Daftar Isi/Sitemap


Untuk mempermudah navigasi para pengunjung dalam melakukan penelusuran, baik kegiatan Bank Sampah Melati Bersih, Kunjungan Tamu, maupun Artikel yang tersaji, dengan ini kami telah tambahkan Tab Daftar Isi/Sitemap. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Rabu, 27 Mei 2015

Kunjungan Tamu dari Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


25 Mei 2015

Kantor Sekretariat Community Development Bank Sampah Melati Bersih menerima kunjungan dari Mahasiswa Fakultas Dakwah, Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang bermaksud melaksanakan praktek kerja (magang) di Community Development Bank Sampah Melati Bersih.


Magang Mahasiswa

Berita Terkait:
  1. Magang Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - 2014
  2. Magang Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - 2013

Kunjungan Tamu dari Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


25 Mei 2015

Kantor Sekretariat Community Development Bank Sampah Melati Bersih menerima kunjungan dari Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang bermaksud membicarakan rencana kerjasama sosialisasi bank sampah dalam kegiatan KKN yang sedang mereka laksanakan.


Kunjungan Tamu

Berita Terkait:
  1. KKN Mahasiswa di Pakualam, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang
  2. KKN Mahasiswa di Tapos 2, Tenjolaya, Kabupaten Bogor

Senin, 25 Mei 2015

Launching dan Penimbangan Perdana Bank Sampah Melati Bersih Bukit Pesanggrahan Indah Ragajaya Bojong Gede Kabupaten Bogor


24 Mei 2015

Penimbangan Sampah

Penimbangan Sampah
Peresmian Bank Sampah Melati Bersih Bukit Pesanggrahan Indah
oleh Bapak Ketua RW.015 serta
Penyerahan bantuan perlengkapan administrasi bank sampah
oleh Community Development Bank Sampah Melati Bersih
Penimbangan Sampah
Peserta Kegiatan Warga Bukit Pesanggrahan Indah
Penimbangan Sampah
Penimbangan Sampah Perdana
Bimbingan dan Pendampingan dilakukan
oleh Bank Sampah Melati Bersih Atsiri Permai II
Motivator
Tim Penggerak/Motivator Bank Sampah Melati Bersih untuk wilayah
Desa Ragajaya, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor
Pengurus
Pengurus Bank Sampah Melati Bersih Bukit Pesanggrahan Indah

Sosialisasi Bank Sampah Melati Bersih di Kelurahan Petogogan Kecamatan Kebayoran Baru Jakarta Selatan DKI Jakarta


23 Mei 2015

Acara ini terselenggara kerja bareng antara Bank Sampah Melati Bersih, Junior Chamber International (JCI) Jayakarta dan Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta.

Bank sampah di Kelurahan Petogogan bukan merupakan isu baru, bahkan sudah ada yang berdiri dan dikelola secara mandiri, kurang lebih sejak 7 bulan lalu. Beberapa bank sampah lain pernah pula ada namun kemudian 'mati suri', antara ada dan tiada. Kendala yang umum terjadi adalah pendirian bank sampah tidak dibarengi dengan kegiatan pembinaan, bimbingan, pendampingan dan monitoring dari pihak-pihak yang berkepentingan.

Kepedulian dan kesadaran warga terhadap isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah mandiri, cukup tinggi, mengingat sebagian besar wilayah Kelurahan Petogogan berada di daerah cekungan yang menjadi langganan banjir dan diakui sampah menjadi salah satu komponen penyebab. Ini terbukti dengan adanya kesepakatan antara warga dengan Bapak Lurah Petogogan untuk mendirikan bank sampah di seluruh RW di Kelurahan Petogogan dalam waktu dekat ini. Kita tunggu bersama realisasinya.

Sosialisasi
Pembukaan Acara
oleh Bapak Lurah Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Sosialisasi
Presentasi Visual Pemberdayaan Masyarakat Bank Sampah Melati Bersih
Sosialisasi
Alhamdulillah, semua menyimak presentasi yang dibawakan
dengan antusias termasuk Bapak Lurah Petogogan
Sosialisasi
Ajuan pertanyaan dari warga seputar bank sampah.
Berita Terkait:
  1. Audiensi Kedua Community Development Bank Sampah Melati Bersih dengan JCI Jayakarta
  2. Audiensi Pertama Bank Sampah Community Development Bank Sampah Melati Bersih dengan JCI Jayakarta

Photo Kegiatan Bank Sampah Melati Bersih Villa Mutiara Mekar Wangi Tanah Sareal Kota Bogor


23 Mei 2015

Penimbangan Sampah

Penimbangan Sampah

Penimbangan Sampah

Penimbangan Sampah

Berita Terkait:
  1. Photo Kegiatan Bank Sampah Melati Bersih Villa Mutiara Mekar Wangi Tanah Sareal Kota Bogor - 24 Maret 2015
  2. Sosialisasi Bank Sampah Melati Bersih di Villa Mutiara Mekar Wangi Tanah Sareal Kota Bogor - 11 oktober 2014